Pages

Subscribe:

Selasa, 18 Februari 2014

Rumah tanggaku tidak harmonis !

Beberapa hari ini saya melakukan perenungan mendalam...*ehhmmmm..*. Tepatnya setelah mendapatkan rapor dari seorang sahabat yang menyatakan bahwa rumah tangga saya tidak harmonis. Agak bingung juga sih..atas dasar pasal apa dia bisa menyimpulkan begitu. Sedangkan beliau ini tidak tinggal bersama saya, tidak pernah tahu bagaimana pola interaksi saya dengan suami dan anak-anak. 

Usut punya usut sodara-sodara..ternyata penilaian itu muncul dari hasil pengamatan beliau atas akun facebook saya. Lebih spesifiknya adalah karena saya :
  1. Tidak mencantumkan status "MENIKAH"
  2. Tidak pernah meng-aplod foto mesra bersama suami
  3. Tidak pernah menuliskan kata-kata manis kepada suami dan anak
"Dosa-dosa" di atas menimbulkan kesan kalo saya enggak cinta dan bangga pada keluarga. 

Waduh..jadi penasaran. Se-abnormal apakah facebook saya. Dengan ke-kepo-an tingkat tinggi.. sayapun menjelajah dari akun fb satu ke akun laen. Hanya untuk mencari tahu, tampilan fb yang harmonis bahagia tuh kayak apa sih?


And then, i find that..
  1. Emang iya sih..yang sudah berpasangan, mayoritas mencantumkan status. Ada yang "MENIKAH", "BERTUNANGAN" atau malah "BERPACARAN".
  2. Banyak yang pasang foto: lagi sama anak, lagi pelukan sama suami, lagi makan-makan, lagi shopping, lagi ibadah, lagi berlibur, and so on..
  3. Banyak status macam gini : "i love u..", "selamat ultah ya nak......", "semoga Allah melindungimu sayang", etcetera..etcetera..

Nah, setelah facebook walking, apakah saya jadi paham bagaimana cara menunjukkan rasa sayang dan bangga kita pada orang-orang terkasih via FB, biar mendapatkan predikat keluarga sakinah?  Hehehe..justru jadi lebih gak mudeng. 

Karena dalam pikiran saya, kalo mau bilang " i love u", mau mendoakan, ato ngucapin selamat, ya enakan bilang langsung ke orangnya. Sekalian bisa mengekspresikan dengan bahasa tubuh yang mendukung. 

*Huaaaaa...jangan-jangan saya emang nggak normal.....

By the way..terimakasih buat sahabat yang begitu memperhatikan keadaan rumah tangga saya. Keep watching !

Eh..tapi boleh juga lo idenya. Ntar deh..kapan-kapan saya kirim puisi cinta buat suami lewat fb. Ayah, are u ready? ;)  

Kalo pasang poto mesra?...hehe, ntar dulu deh. Alasan sebenernya sih, karena enggak tega mau sering-sering apload poto. Takut mata pemirsa mendadak minus liat muka saya..
Sedangkan komen tentang status ada betulnya juga sih. Bisa-bisa saya  dikira single. Hahaha..

Rabu, 08 Januari 2014

Selera Ndeso

Yang namanya "wong ndeso"..biarpun sudah puluhan tahun meninggalkan desa..urusan selera..ya tetep aja ndeso.


Bukti nyatanya ya kami ini. Dan berikut adalah salah satu menu ndeso kami yang kayaknya susah ditemukan di rumah makan ataupun  restauran yang beken beken itu. 

Taraaa...ini dia penampakannya..



ariewidayanti.blogspot.com




Judulnya..emmm...apa yaaa? ini aja deh..

Jantung Pisang Masak Santan


Bahan :
  • 2 buah jantung pisang - buang kulit yang berwarna merah
  • 300 gr ikan asap - suwir-suwir, buang durinya
  • 65 ml ( 1 bungkus) santan siap pakai - hehe..dasar pemalas
  • 1000 ml air
Bumbu :
  • 2 siung bawang putih
  • 7 siung bawang merah
  • 2 buah cabe merah
  • 7 buah cabe rawit
  • 1/2 cm kencur
  • 1/2 sdt ketumbar
  • 2 btr kemiri
  • 4 cm lengkuas - geprek
  • 3 lbr daun salam
  • 4 lbr daun jeruk
  • Garam dan gula secukupnya
Cara memasak :
  • Rebus jantung pisang bersama bawang putih, 3 siung bawang merah, cabe merah dan cabe rawit sampai empuk. Tiriskan.
  • Iris kecil-kecil jantung pisang .
  • Haluskan bumbu rebus bersama ketumbar, kencur, kemiri
  • Iris tipis sisa bawang merah, tumis sampai agak kecoklatan. Masukkan bumbu halus, tumis terus sampai harum.
  • Masukkan jantung pisang, ikan asap, dan sisa bumbu lain.
  • Tuangkan air, masak sampai bumbu meresap.
  • Tambahkan santan, tunggu beberapa saat sambil diaduk.
  • Jantung pisang masak santanpun siap disajikan.
Efek menyajikan masakan ini adalahhh.. ayah sampe nambah-nambah nasi. Hahaha..

Anak-anak?...Kalo mereka mah, udah beda lidah. La wong dikasih singkong goreng aja..makannya dicocol saus thousand island. Beuhhhh... 



Senin, 02 Desember 2013

PINDAH RUMAH....LAGI

Ceritanya keluarga kami baru pindahan rumah (lagi). Kalo dihitung-hitung, ini adalah kepindahan yang ke-3 (atau 4 yak?).


Coba aku ingat-ingat :

* 12 Oktober 1996 : tepat satu minggu setelah akad nikah, aku pindah ke kota di mana suamiku (yang kelak aku panggil "ayah") bekerja. Tepatnya ke rumah yang sudah dia kontrak beberapa hari sebelum pernikahan. Jaraknya .. sekitar 150 km dari rumah orangtuaku. Kalo yang ini sih nggak ribet, karena harta bendaku hanya berupa sekoper baju. Eh, ada juga sih beberapa barang dan peralatan elektronik dari tempat kost do'i.


* 30 Juni 1998 : AlhamdulilLah kami bisa pindah ke rumah yang kami beli dengan cucuran keringat dan darah, hiks.. Proses pindahan belum terlalu ribet juga, karena kami ngontrak rumah berikut furniturnya. So, tidak terlalu banyak barang yang musti diangkut.


*Juni 2004 (tanggalnya lupa) : Sekali lagi kami pindah. Kali ini ke rumah dinas di area perusahaan tempat ayah bekerja, yang berjarak 5 km dari rumah kami. Why, bukannya enakan di rumah sendiri?. Alasannya adalah : satu, tugas ayah saat itu membutuhkan koordinasi tingkat tinggi..tsaahhh. Jadi akan lebih mudah kalo kami tinggal di komplek perusahaan. Alasan kedua (dan yang paling penting) adalah.. di sini, air, listrik, telpon internal gratis tisss. Gak ada iuran keamanan dan kebersihan. Gak pernah kerja bakti. Ada bagian rumah yang rusak, tinggal angkat telpon.. beres deh. Siapa yang gak ngiler coba...


*Oktober 2005, kira-kira  2 minggu sebelum Eza lahir kami pindah lagi. Masih di perumahan dinas, dan hanya berjarak 200 m dari rumah sebelumnya. Apa??? Kurang kerjaan amat .. Tidak sodara-sodara. Karena rumah baru ini lebih luas, dan ada water heaternya pula. Secara.. mau lairan baby, pastinya butuh air panas. Biar gak rempong nyalain kompor lagi.


*Yang terbaru, 23 Nopember 2013. Lagi-lagi pindahnya masih tetap di perumdin. Kali ini alasannya adalah mencari rumah dengan 4 kamar tidur. Sebab, Faiq yang selama ini bobok bareng Eza, heboh minta pisah. Maklum, mulai masuk fase ABG..


Tuh..malah 5 kali kan. Kesannya hobby pindahan ya..
Kalo ditanya apa gak capek.. ya iya dong. Bukan cuma capek, kadang sampe senewen juga lihat barang-barang berserakan. 

Oya, melalui pengamatan dari 5 kali pindahan tadi, aku jadi tahu bahwa ternyata ada satu jenis barang yang mendominasi harta benda kami. 

Ini dia barang yang aku maksud :



ada lagi nih :


eh, yang ini nyusul :



Yup.. BUKU. 3 lemari bok! Padahal ini sudah dikurangi 5 kardus air mineral plus 3 kresek merah besar. 
Buku-buku inilah yang paling menyita tempat dan energi pas kami pindahan. Paling bikin mblenger.

Nah, kalo ada yang bertanya, apakah kami masih akan pindah-pindah lagi? Yang jelas nanti...saat ayah pensiun, mau tidak mau kami harus angkat kaki dari perumahan dinas ini. Huhuhu...kebayang tagihan rekening listrik, air, bla bla bla......


Catatan :
Semua proses pindahan kami dilaksanakan pada hari yang paling "baik" yaitu Sabtu dan Minggu. Hari di mana ayah libur kerja. Tidak pernah ada acara selamatan, tumpengan, bubur merah putih dkk. 

Selasa, 08 Oktober 2013

Hai kamu..





Hai..
Kamu yang tujuh belas tahun silam
Seorang diri menghadap orangtuaku
Meminta mereka melepaskan aku
Untuk meniti hidup bersamamu
Tahukah kau?
Bahwa terkadang aku ragu
Mampukah kita
Terus menyusuri jalan ini hingga ke ujungnya





Hai..
Kamu yang bilang 
Bahwa aku adalah karunia terbaik Allah
Yang dikirimkan dalam hidupmu
Tahukah kau?
Bahwa hingga saat ini aku masih saja bertanya
Seberapa besar artiku dalam hidupmu

Hai..
Kamu yang membuka hariku 
Dengan kecup lembutmu
Tahukah kau?
Ketika langkah mulai tertatih
Ketika beban terasa menghimpit
Bisikmu yang membuat langkahku tegak kembali

Cukup panjang jalan yang telah kita susuri bersama
Tanpa tahu bagaimana akan berakhir
Akankah kita menempuhnya bersama hingga ke ujung
Ataukah satu di antara kita akan meninggalkan yang lain
Ketika Yang Maha Berkehendak memanggil
Mungkin aku..mungkin juga kamu
Kita tak pernah tahu

Inilah aku..
Yang tak secantik Maria Al Qibtiyah
Tak secerdas Aisyah
Tak selembut Khadijah
Jika boleh meminta..
Aku masih ingin menggenggam tanganmu
Hingga nanti..
Bersama menatap anak-anak kita tumbuh
Dan menemukan jalan mereka..

*celebrating the 17th anniversary*

Kamis, 05 September 2013

Semua karena cinta

Satu siang di penghujung Ramadhan, telepon rumah berdering. Seorang teman meminta saya untuk datang ke rumahnya. Sang putra semata wayang -duduk di bangku kuliah- emosinya sedang meledak. Bahkan sambil membawa pisau, dia mengancam akan membunuh kedua orangtuanya.
Hhmm, kalo nunggu ayah pulang dari jama'ah sholat dhuhur, kayaknya kelamaan deh. Akhirnya sambil merapal mantra -laa haula wa laa quwwata illaa bilLaahil 'aliyyil 'adhiim- sayapun memutuskan berangkat sendiri. Ini adalah kali kedua saya dilibatkan dalam emosi Putra (kita sebut saja namanya begitu).

Begitu masuk rumah, saya lihat sang ibu sedang berusaha meredakan amarah Putra yang meledak-ledak. 
Dengan mantap, saya gamit lengan remaja bertubuh tinggi besar itu, dan mengajaknya beranjak ke ruang lain. Meskipun sesekali  berontak dan memaki orangtuanya, dia menurut juga. 
Kalau pada keterlibatan pertama, saya dan ayah hanya sekedar menenangkan emosi Putra saja, saat itu saya bertekad akan menggali lebih dalam apa sebenarnya akar ledakan emosi ini.

Setelah Putra lebih tenang, sayapun memancingnya untuk mengeluarkan apa sebenarnya yang dia rasakan. Sambil merokok, dia merespon pertanyaan-pertanyaan saya dengan baik. Nampaknya remaja ini sedang putus asa. Dia merasa hidupnya tidak bahagia, tidak dihargai. Dia muak dengan segala aturan dan norma yang berlaku. Begitu hopelessnya, Putra sampe bilang kalau dia tidak peduli lagi sama Tuhan. Tidak mau beribadah lagi. Karena menurutnya sholat dan ibadah lain  tidak membuat hidupnya bahagia. Dia bahkan siap mati dan dibakar di neraka. Dan yang paling memprihatinkan adalah, dia menuding bahwa orangtuanyalah sumber dari semua ketidakbahagiaan itu. Fiuhhh...

Di tengah serunya diskusi saya dengan Putra, ayah datang  bergabung. Berdua kami "mengeroyok" remaja frustasi ini. Mencoba mengajak dia berjuang untuk "memegang remote kehidupannya" , dan tidak membiarkan orang lain mengambil alih "remote" tersebut. Menyuntikkan rasa percaya diri dan keyakinan, bahwa bahagia, sedih, dan sukses ada di tangannya sendiri. Memberi tantangan agar dia bisa menunjukkan kepada orangtuanya bahwa dia adalah anak hebat yang membanggakan. Bla..bla..bla.. Hingga akhirnya dia bisa tersenyum dan menyatakan, akan mencoba menebar kebaikan agar kelak dia menuai kebaikan serupa. 

AlhamdulilLah... selesai. Untuk saat itu. Tapi Putra masih bisa meledak lagi ketika faktor pemicunya terusik. Masih ada  banyak PR buat orangtuanya.

Usai peristiwa Putra, sayapun makin sering "berkaca dan bertanya". Apakah cara yang saya gunakan untuk  -menurut saya- membantu anak-anak meraih suksesnya sudah tepat. Apakah anak-anak bisa menerimanya. Atau jangan-jangan mereka punya pikiran bahwa ibunya ini tukang memaksakan kehendak, suka mengebiri imajinasi, dan tidak bisa memahami jalan pikiran mereka.

Padahal, seperti ibu-ibu yang lain. Saya berkeyakinan bahwa segala aturan yang saya buat adalah karena saya ingin kelak mereka bahagia dan selamat di dunia akhirat . Semata-mata karena saya mencintai mereka. 

Masalahnya adalah... apakah mereka saat ini BAHAGIA dan MERASA DICINTAI?
*duh, jadi galau nih..*





Selasa, 23 April 2013

Lelaki dalam gua

Dalam buku-buku tentang perbedaan karakter pria dan wanita. Banyak sekali dibahas tentang perbedaan aksi mereka ketika menghadapi stress.
Wanita mengurangi stress dengan cara bicara alias curhat. Bukan dalam rangka mencari solusi, tapi untuk mendapatkan empati. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang memberikan dukungan sekaligus tempat untuk berbagi rasa. Jika tidak mendapatkan itu, dia akan merasa semakin tertekan.

Kebalikan dari itu, pria yang tertekan justru butuh ketenangan. Mereka lebih suka dibiarkan menyendiri. Untuk sementara waktu mereka akan menutup diri dari lingkungan sekitar, mengisolir diri. Bak masuk kedalam gua, dan memutuskan hubungan dengan dunia luar. 

Nah, saat pria sedang berada dalam kondisi ini, wanita seringkali tidak bisa memahami. Wanita menerjemahkan sebagai tanda bahwa prianya  mengacuhkan, tidak menghargai, -atau yang lebih parah- tidak mencintai lagi. Akibatnya, wanita merasa tersinggung dan marah. Bagi sang pria -yang sudah cukup tertekan dengan masalahnya- akan sulit mengontrol emosi, ketika menghadapi kemarahan pasangannya. Bisa anda bayangkan, ketika dua orang yang sama-sama terbakar emosi bertemu. Hhmmm..mungkin seperti bom waktu yang tinggal menunggu saatnya meledak..

Saya sering membaca teori di atas, dan meng-amini-nya. 

Pastinya anda berpikir bahwa semestinya, ketika pasangan sedang bersembunyi di dalam guanya,  saya mampu memahami dan memaklumi, kalo perlu menciptakan situasi yang kondusif. Biar dia bisa bertapa dengan aman dan damai.


But, factually...it's really-really not  as simple as that!
Ternyata..lelaki yang menarik diri itu nggak ada asyiknya sama sekali. Bikin ilfil. Bahkan dalam level akut, bisa menimbulkan bete yang amat sangat.

Lah, bukannya sudah paham teorinya, kok masih gondok juga sih?

Biar pembaca bisa memaklumi perasaan saya, silakan menyimak suara-suara yang sedang adu argumentasi di kepala *setelah dipasangin loud speaker*
Note : 
    • SM  : Suara Malaikat
    • SS   : Suara Setan
    • S      : Saya
SS  : Eh,biasanya kalo kamu lagi ngomong, suamimu dengerin sambil menatap wajahmu. Malah pake peluk-peluk segala. Kok sekarang, liat aja kagak, apalagi ngerespon. Kayaknya dia gak mau denger apa yang kamu omongin.  Menyepelekan banget deh.

S   : Bener banget. Kayak ngomong sama angin. Gondok deh..
*dan seharian saya cuekin dia*

SM  : Yee, siapa tau dia lagi cape, lagi ada yang dipikirin

S   : Iya juga sih
*merasa bersalah..bikinin minum. nemenin makan*

SS  : Kalo emang ada masalah cerita dong, kamu kan bisa bantu. Berarti dia gak percaya kemampuanmu. Tuh..tuh, kalo kamu deketin dia keliatan gak suka. Tidurnya aja munggungin. Eh..kamu tuh gak dibutuhin lagi. Udah, mending jauh-jauh deh. Jangan mau kalah, cuekin ganti. Gengsi dong, masa cewek yang deketin dulu.
*tidur di kamar anak-anak. Pura-pura nemenin terus ketiduran*

SM  : Hei, dia kan lagi setres. Dan kamu udah tau teorinya, pahamin dong. Itu kan kayak kamu kalo lagi mau dateng bulan. Manyun, bete, jutek, muka kamu gak enak diliat.

S    : Iya juga ya...*inget kelakuan kalo pas PMS*
*pindah ke kamar sendiri. euleuh..*

SS  : Yee..beda dong, itu kan karena hormon. Udah, cuekin aja. Kalo dia minta "jatah" jangan dikasih. Mendingan tidur sama anak-anak aja. Salah sendiri. Kayak gitu mah, perlu dikasih pelajaran. Biar dia tahu kalo kamu itu gak bisa diperlakukan semena-mena.

S  : Sudah..sudaaaaaaahhhhhh...diam semuaaaaa!!!!
*SM dan SS kabur ketakutan*

*tarik napas panjang...merenung..*

Ya Allah..
Begitu lemahnya diri ini
Hamba tahu, dia tidak bermaksud begitu
Dia pasti sedang gundah,
Mengapa hamba justru menambah kegelisahannya
Ampuni.. 
Baru sampai di sini kemampuan hamba menata hati

*lempar emosi dan jaim ke recycle bin, senyum semanis mungkin, bikinin minum, mijitin, and so on...*

Ada yang pernah mengalami kasus seperti ini?


*Big hug for ayah... :D

Minggu, 21 April 2013

Hidup Sehat, Sejahtera & Bahagia

Tanggal 15 April lalu saya menghadiri  undangan sebuah Seminar Kesehatan. Tadinya, saya berangkat dengan setengah hati, ngebayangin yang namanya seminar kesehatan pasti ya gitu-gitu aja. Cuma, karena salah satu temanya tentang stroke, saya memaksa diri untuk hadir. Mengapa? Karena selama hampir 9 bulan ini, MbahTi (ibunya suami) menderita stroke. Jadi saya pengen nanya-nanya aja.

Menurut undangan, acara dimulai pukul 7.30, ternyata molor sampe 8.30. Tuh kan, waktunya aja molor, pasti isinya juga gak menarik, begitu pikir saya.
Tapi  ternyata, saya salah sodara-sodara..

Narasumber pertama, dr. Agus Ali Fauzi, Pall Med. Seorang dokter spesialis paliatif medik jebolan sebuah universitas di Perth Australia sono. Beliau ini kocak habis, materi tentang HIDUP SEHAT SEJAHTERA & BAHAGIA disajikan dalam suasana yang heboh dan penuh tawa.
Menurut beliau, gangguan kesehatan disebabkan oleh :
  1.  70 %  karena : Pola pikir  --> hati (sabar dan ikhlas)
  2. 10 %   karena : Pola hidup --> kebiasaan
  3. 20%    karena : Pola makan
Dan berikut ini adalah beberapa tip supaya kita selalu sehat dan bahagia :
  1. Tidur 6 jam per hari
  2. Makan cukup, gizi seimbang, minum 3 s/d 6 gelas air putih setiap pagi
  3. Jalan kaki 15 menit tiap pagi
  4. Makan 1 buah apel tiap hari
  5. Jaga hati dengan banyak bersyukur; tidak mudah marah, tersinggung, sakit hati dan egois; serta tidak mudah mengeluh
  6. Banyak tersenyum. Karena bisa meningkatkan hormon endorphin, kadar lemak baik (HDL), T-Lymphosit Cell dan NK-Cell
  7. Memperbanyak asupan antioksidan
Lanjut ke Narasumber Kedua, dr. Arijanto Jonosewojo, SpPD. FINASIM. Beliau menjabat sebagai Ketua Prodi Pengobat Tradisional FK UNAIR, Kepala Poli Komplementer Alternatif RS Dr. Soetomo, sekaligus Ketua Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alam Surabaya. *Eh, masih ada buanyak lagi jabatan beliau*.

Beliau menyampaikan, persepsi yang saat ini  berkembang di kalangan masyarakat awam adalah bahwa "se-akan-akan semua obat kimia berbahaya, sedangkan obat herbal 100% aman". Padahal, realitanya tidak selalu begitu. Obat kimia diproduksi setelah melewati serangkaian penelitian dan uji klinik. Sedangkan obat herbal yang beredar di pasaran banyak yang baru sampai pada tahap uji pra klinik.
Maksudnya, obat herbal gak bagus gitu ?
Bukan...bukan begitu. Obat herbal memang bagus, berkhasiat, dan ber-side effect lebih minim. Cuma, kita mesti hati-hati. Musti tau, dosisnya seberapa, kontra sama apa. Terlebih untuk obat herbal dalam kemasan. Musti di cek juga, ijin sama komposisinya.
Contoh :
  • Jus buah. Sangat menyehatkan. Tapi kalo diminum bersamaan dengan beberapa jenis obat, bisa menetralkan khasiat obat tersebut.
  • Temulawak. Banyak banget khasiatnya, termasuk mengencerkan darah. Jadi, hati-hati sebelum melakukan tindakan perawatan gigi misalnya, jangan mengkonsumsi temulawak dulu. Bisa mengakibatan pendarahan. Trus para gadis tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsinya, karena bisa menyebabkan susah punya anak.
  • Ginseng. Sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita penyakit jantung. Bisa konslet jantungnya.
Eh, materi di atas sebenarnya sangat menarik, cuma...karena penyampaiannya datar, jadi agak boring dan ngantuk gitu. Hehe, maap ya pak dokter *jewer kuping kanan..

Materi ketiga tentang STROKE, dibawakan oleh dr. Bayu Santoso *gelarnya lupa.hehe.. Yang jelas beliau ini spesialis Rehabilitasi Medik dan merupakan salah satu direktur RS Universitas Airlangga. Biarpun sudah cukup sepuh *lulus FK tahun 1972 bok*, beliau ini kocak juga.
Dan.. materi inilah yang paling saya tunggu.
Pada kesempatan itu beliau memaparkan bahwa stroke adalah pembunuh nomer 3 di Indonesia. Ih, syeremmm. 
Sebenernya stroke itu apa sih?
Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang terjadi mendadak akibat adanya gangguan sirkulasi darah di otak. Bisa karena pembuluh darah yang tersumbat, atau pecah.  Akibatnya, sel-sel otakpun akan mati. Itulah yang menyebabkan kelumpuhan pada organ tubuh yang seharusnya dikendalikan oleh saraf yang mati itu.

Faktor penyebab stroke antara lain :
  1. Hipertensi
  2. Diabetes
  3. Penyakit jantung
  4. Dislipidemia (kolesterol)
  5. Perokok berat
  6. Peminum alkohol
  7. Kegemukan dan kurang olahraga
  8. Tekanan fisik / psikis berat
  9.  Genetik
Nah,biar gak kecolongan, kita musti waspada kalau ada gejala berikut :
  1. Nyeri kepala hebat
  2. Terjadi gangguan penglihatan
  3. Terjadi gangguan berjalan dan kepala terasa mbliyur *tulisan di slidenya emang begitu. dan saya males mikir padanan katanya
  4. Kebingungan dan sukar bicara
  5. Baal (mati rasa) di daerah muka, lengan/tangan, tungkai/kaki.
Segera hubungi dokter anda...sebelum menyesal di kemudian hari.

Trus, kalo udah terlanjur stroke gimana dong?
Selain harus mengkonsumsi obat-obat tertentu, dibutuhkan Rehabilitasi Medik. Tujuannya adalah untuk :
  1. Mencegah terjadinya komplikasi
  2. Melatih dengan menggunakan metode dan alat-alat tertentu
  3. Memberikan rangsangan agar otak mampu ber-recovery
  4. Memperbaiki kualitas hidup
Begitulah sebagian materi yang saya dapat diseminar yang ditutup pada pukul 13.00 itu. Kebayang gak betapa pegel pinggang saya setelah duduk berjam-jam. Padahal sebagai undangan VIP *hehe..sombong dikit* saya duduknya di kursi empuk yang bisa muter-muter. Gimana yang duduknya di kursi biasa ya?

*kalo ada kesalahan penulisan istilah kedokteran mohon maap yaa.. maklum nggak pernah sekolah dokter*