Minggu, 16 Desember 2012

Menikmati Masalah

Topik ini sengaja aku tulis buat temanku yang lagi galau. Gundah karena menghadapi masalah. Biasanya dalam kondisi kayak gini, seseorang cenderung merasa bahwa masalahnya adalah yang paling berat dibandingkan orang lain. Betulkah begitu ?

Mari kita analisa..
Bayi yang baru dilahirkan, menghadapi masalah bagaimana harus minum, kesakitan saat tumbuh gigi. Lebih besar lagi, dia harus belajar jalan. Berkali-kali jatuh, kadang sampai memar dan luka.
Tiba masa sekolah, dia dihadapkan pada segala macam teori dan rumus. Belum lagi harus  beradaptasi biar diterima lingkungannya. 
Lulus kuliah, pusing cari kerjaan. Dapat kerjaan, bingung lagi urusan pendamping hidup. Setelah dapet pasangan, menikah, punya anak, bla..bla...bla....pusing ini dan pusing itu.

So, what do you think?...
Yupz..Ternyata masalah datang pada siapa aja. Tanpa pandang usia, ras, agama, profesi, jumlah harta, atau apapun. kita semua senasib..sama-sama terbelit masalah. Bentuknya aja yang beda. Masalah keluarga satu, tidak akan sama dengan keluarga lainnya. Ada keluarga yang bermasalah di sisi finansial. Keluarga lain berlimpah materi, tapi dirundung penyakit. Yang lain lagi, keharmonisan rumah tangganya yang diuji. Atau anak-anaknya yang bermasalah. Nanti, selesai masalah satu, datang lagi masalah lain.
You see..sama kan? 

Nah sekarang..kalo sudah sadar bahwa masalah itu nempel pada tiap orang, seumur hidup pula*...Mesti gimana donggg..
Gak ada cara lain...kita harus MENIKMATI masalah itu. 
Menikmati?..Maksudnya?
Yaa..berdamai dan kendalikan... Jangan sampai kita yang dikendalikan . Atau yang lebih parah..diperbudak masalah...Gimana caranya?..
Let me share an experience..
Dulu..aku juga termasuk orang yang gampang panik dan stress. Kalo udah gitu, pasti maag kambuh dan sariawanpun bakal datang rombongan. Biasanya ayah akan  ketawa lihat manajemen stressku yang amburadul ini. Why?..Karna, (kalo ada arloji yang water resistant) suamiku ini tipe  stress resistant. Dalam tekanan tinggi, dia tetep cool..aja. Kualitas tidurpun gak terpengaruh. Beda banget sama aku yang langganan insomnia. Lama-lama aku ngiri juga.. dan tertarik buat nyontek gayanya.

Kalo aku amati, dia ini punya kadar keyakinan yang tinggi pada kebesaran dan kasih sayang Sang Rahman. Dia haqqul yakin bahwa tiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya, bahwa kami akan mampu melaluinya. Dan kami akan baik-baik saja. Jadi, kenapa mesti diratapi. Yang selalu dia katakan adalah,"Bismillah, kita pasti bisa. Lihat aja nanti" (plus senyum dan peluk hehe..i like it).  Dan diapun  menjalani hari dengan ceria, kayak gak ada masalah gitu. Ajaibnya..kami memang selalu dapat jalan keluar. Biasanya saat putus asa mulai menyerangku. Saat di mana aku mulai sulit menyembunyikan mata yang merah dan bengkak .(Buat yang kenal aku, jangan ketawa ya. Hihi..aku juga bisa nangis kok).

Seiring waktu berjalan, akupun paham. Bahwa ternyata Allah sudah memilih skenario hidup terbaik buatku. Bahwa semua sudah diatur sedemikian rupa, tepat pada saatnya. Dalam kesulitan pasti Dia sertakan jalan keluarnya. Atau bisa jadi kesulitan ini sengaja Dia berikan, biar aku selalu ingat padaNya. Dan dalam sesuatu yang aku anggap kegagalan, selalu ada hikmah dan ganti yang lebih baik. Baik sesuai standarNya. Allah juga selalu memberi apa yang aku butuhkan, meskipun aku tidak selalu mendapat apa yang aku inginkan. Terus kenapa aku harus cemas ?

So, here I am... mulai bisa menikmati masalah , like my hubby did.
Sekarang aku punya mantra andalan "HasbunalLah wa ni'mal Wakil. Ni'mal Maula wa ni'man Nashir". Buat Allah, gak ada yang sulit ato mustahil kok.
Selanjutnya.. aku akan menertawakan masalahku.. seperti sepenggal syair lagu Jawa "ayo ngguyu...hahaha". Kemudian menjalani hari seperti biasa...menunggu jalan keluar dariNya (eh, tapi sambil berusaha lo ya..cuma gak pake nangis lagi). Dan hasilnya..sariawan dan maag pun jarang berkunjung.
Ini caraku..bagaimana cara kamu?
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan membuatmu tersenyum lagi..


*Bahkan setelah matipun kita masih harus menghadapi urusan kubur dan pertanggungjawaban amal. Ini baru masalah..

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © arie widayanti Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger